Tinta Tajdid

May 10, 2010

Keimanan Kulit Kacang

Filed under: Uncategorized — syahmienor @ 12:18 am

Salah satu fitnah masa kini. Ramai yang mengaku beriman, namun keimanannya tidak istiqomah. Pagi hari ia begitu khusyu’ menyembah Allah, tapi petangnya sibuk mengikuti jalan syaitan. Petang dia sibuk mengerjakan amal kebajikan, namun pagi dia sangat beringas melakukan dosa dan kemaksiatan.

Itulah profil keimanan yang seperti chipsmore, sekejap ada sekejap tiada, tidak jelas atau bahkan kelam. Keimanannya tidak konsisten. Kita tidak membicarakan soal iman turun dan naik, tapi membahaskan keimanan yang lurus dan songsang. Pagi beriman, petang kafir. Petang beriman, pagi kafir. Kedua keadaan tersebut bercampur-baur, sehingga timbul kekaburan sikap hidup. Hidupnya jadi dua, mukmin dan kafir.

Disebut mukmin mungkin kerana solat, membaca al-Quran, puasa, sedekah, membayar zakat atau bahkan haji. Namun di kesempatan lain disebut kafir dengan rasuah, zina, minum arak, berjudi derhaka pada mak bapak dan sebagainya. Puasa mengalahkan tok syeikh, tapi tidak solat. Solat lima waktu di masjid, tapi akhlaqnya buruk, hisap rokok. Baju mukmin dan baju kafir dipakainya sekaligus dalam hidupnya. Hak dan batil dicampuradukkan. Allah dan syaitan hendak dikahwinkan dalam satu peribadi. Astaghfirullah..

Inilah malapetaka besar, sebuah fitnah yang sangat berbahaya yang menghiasi wajah akhir zaman.

“Dan janganlah kamu campuradukkan yang haq dengan yang batil, dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu sedang kamu mengetahui” (Al-Baqarah[2]:42)

Orang yang memiliki keimanan seperti ini sama saja dengan mencampur aduk yang hak dengan yang batil. Perkara hak berorientasi pada kehidupan ukhrawi yang abadi dan kebatilah memusat pada nafsu duniawi yang fana. Campuran keduanya merupakan sebuah tindakan penguncupan kewujudan kebenaran dengan kebatilah, dan ini adalah satu bentuk “kriminal batiniah” yang merosak.

Orang yang beriman secara campur aduk menerapkan standard ISO untuk dua perkara dalam hidupnya, iaitu standard ISO keimanan dan juga standard ISO kesesatan, atau standard agama dan standard nafsu duniawi. Kerana itu kita selalu mendengar perkataan sebegini. “Akhirat, ahirat juga, dunia dunia juga”. Jika kita hitung secara objektif, dalam kehidupan mukmin seperti ini, agama seringkali dikalahkan dengan dunia. Bahkan agama sering dijual.

Moga-moga kita tidak di dalam keimanan seperti ini. Insyaallah di masa lain biiznillah kita cuba bahaskan jalan untuk kita mengenal keimanan yang sebenar, dan bagaimana untuk beriltizam dan beristiqomah dengan keimanan kita dan menjauhkan diri kita dari potensi kebinasaan hati kita.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: